Band Yang Terlahir Melawan Arus

Band ini lahir di tengah kepungan trend fusion, jazz rock dan pop yang mendayu-dayu. Konsep musiknya crossover antara art rock dengan heavy metal. Oleh karenanya kehadiran mereka terlihat menyendiri dan, tentu saja, melawan arus.
Personil Makara  terdiri atas Hari Moekti (vokal), Kadri (vokal), Agus Anhar (gitar), Januar Irawan (bass), Adi Adrian (keyboard), Andy Julias (dum). Sebagian besar tema lagunya mengakar pada potret sosial dan politik. Salah satunya adalah “Laron-Laron” yang berkisah tentang fenomena urbanisasi. Ada juga ambisi politik yang memporak-porandakan sendi kehidupan seperti “Polemik”. Aslinya, notasi lagu ini bernuansa balada. Rada Scorpions gitu deh. Tapi di tangan Makara berubah menjadi beringas.
Pada umumnya setiap lagu menawarkan durasi dan interlude panjang. Contohnya “Ronta Jiwa”.  Pada titik ini peran Agus dan Adi terlihat menonjol saat berbagi peran, padahal keduanya memiliki karakter berlainan. Agus sangat cadas – ia salah seorang penggila Eddie Van Halen, sementara Adi ngepop abis. Kelak, setelah tak bergabung dengan Makara, Adi mendirikan Kla Propject bareng Katon dan Lilo. Musiknya jelas memasukkan pengaruh Duran-Duran.
Dari sepuluh lagu, hanya “Rosita” yang aransemennya dibuat ringan, tanpa pretensi memperlihatkan keakuan. Kabarnya pihak label pun tertarik memilihnya sebagai single akan tetapi personil Hari Moekti dan kawan-kawan menolaknya, dan memilih “Laron-Laron” sebagai single sekaligus  “Itu bukan warna Makara,” kata Andy Julias suatu ketika tentang penolakan usulan labelnya.
Untuk dapat memaknai karya Makara ada kalanya  terlebih dahulu harus memahami proses kelahirannya. Makara terbentuk pada 1980 di lingkungan kampus UI ketika rezim Orde Baru tengah memperlihatkan taringnya di segala lini, termasuk melakukan represi terhadap lingkungan akademis. Saat itu kebebasan berkreasi diberangus termasuk dalam hal berkesenian. Tekanan ini melahirkan perlawanan  kreatif para personil Makara. Andy dan Januar kemudian menulis “Sangkakala”.
Gagahnya sang durjana seolah tak ‘kan terkalahkan
Tegak kokoh perkasa seolah tak ‘kan tergoyahkan
Berpagarkan meriam menindas dengan kejam
Namun terali yang menghalang tiada kuasa jua
Membendung semangat berjuang untuk merdeka
Kebenaran yang ‘kan menang akhirnya…
Lugas kan?
Bertempo cepat, duet Agus dan Adi menginterpretasikan semangat pembebasan dalam lagu ini melalui rallybising namun tetap saling menghormati  wilayah masing-masing dibungkus. Tidak saling mengalahkan.
Sebagai pendatang baru di dunia rekaman, debut album ini memperlihatkan keluasan wawasan para personilnya. Kita diajaknya berwisata mengenal seni tradisional melalui “Fabel” yang intronya mengetengahkan sentuhan Minang serta  “Di Dunia Angan-Angan”  yang mengangkat nuansa pentatonis Bali. Meski tidak secara dominan, dua komposisi ini bolehlah kita apresiasi sebagai upaya mempertemukan dialog kesenian Timur dan Barat. Jangan lupa, sesi rekaman formasi ini diperkuat Budhy Haryono, drummer tamu yang juga seorang musisi multi intrumentalis.  Melalui album ini, Makara menjadi nama band rock yang diperhitungkan.
Sumber: https://news.gemusik.com/band-yang-terlahir-melawan-arus/
website: www.gemusik.com 

Komentar